0
Dikirim pada 13 November 2014 di Saling mengingatkan

Saya kira ini artikel yang bagus untuk pengingat saya dan saudara pembaca :D :

 

Untuk menyelesaikan gelombang persoalan, kita membutuhkan justru acapkali membuat persoalan terasa menjadi lebih berat. Seringkali orang mengatakan jika Anda punya masalah ceritakanlah segala unek – unek perasaan sedih yang mengganjal di hati supaya memperoleh kelegaan. Dengan begitu Anda terhindar dari pikiran negatif seperti bunuh diri, mabuk – mabukan, narkoba dan tindakan asusila.

 

Suatu ketika saya pernah mengalami persoalan yang sangat berat. Saya tak tahu lagi bagaimana cara mencari orang yang mau mendegarkan cerita keluh kesah saya agar beban berat ini sedikit berkurang. Ternyata saya tidak salah pilih orang sebagai pendengar yang baik.

Dia selalu bersedia mendengarkan uneg – uneg saya dengan penuh kesabaran. Ia tak jenuh memberikan penghiburan sembari memberikan masukan yang membangun dan berguna bagi pemecahan problemku. Meski saran yang ia diberikan belum menyelesaikan persoalan, namun saya sudah merasa senang bisa bercerita, mengeluarkan segala perasaan sehingga lebih lega dan tenang seusai curhat.

 

Kondisi ini terus berlangsung hingga sampai tahap aku keenakan mengeluh dan mengeluh kepada temanku itu. Aku lupa bahwa ada persoalan di depan mata yang harus diselesaikan. Makin lama persoalan di depan mata yang harus diselesaikan. Makin lama persoalan yang saya hadapi semakin berat lagi ruwet. Kemudian saya terbangun dari kebiasaan mengeluh. Saya menjadi sadar bahwa sebuah persoalan membutuhkan pemecahan masalah atau solusi bukanya keluhan.

 

 

MEMBUANG ENERGI

Pernahkah Anda merasa capek ketika berbicara terlalu banyak bahkan sampai tenggorokan terasa kering? Demikian pula ketika mengeluh semestinya kita juga merasa capek. Terkadang kita tidak merasa lelah ketika mengeluh. Saat mengeluh orientasi utama adalah mendapatkan kelegaan meski hanya “sesaat”. Jadi tak peduli apapun asalkan dapat melontarkan keluhan – keluhan, dan mengeluarkan semua rasa sakit walaupun sebenarnya melelahkan, tetapi rasa capek tidak dirasakan.

 

Tak hanya pengeluh saja yang butuh energi besar untuk berbicara. Semakin sering dan lama seseorang mengeluh, semakin banyak tenaga yang diperlukan sobatnya untuk mendengarkan. Pendengar yang baik membutuhkan kesabaran, pikiran jernih dan konsentrasi tinggi  agar tetap fokus mendengarkan semua keluahan “pasien”. Sebab itu bukankah lebih efektif jika kita menggunakan energi untuk mencari solusi atas persoalan yang timbul daripada membuangnya secara sia – sia untuk terus mengeluh guna mendapatkan kepuasan sesaat?

 

 

PRESPEKTIF YANG BENAR

Pertanyaannya adalah bagaiman supaya kita mampu fokus pada solusi suatu persoalan? Pertama – tama kita harus menyadari bahwa setiap orang tak dapat lepas dari masalah. Kesadaran ini sangat membantu dalam menghadapi sebuah masalah. Bahwasanya masalah itu pasti dialami oleh semua orang kapan saja dan dimana saja. Jadi, masalah itu adalah wajar bukan hal yang patut ditakuti.

 

Sebuah permasalahan tak pernah usai jika seseorang tak mau mencari solusinya. Jangan memikirkan kegagalan dari tiap ide solusi, tapi berpikirlah mengenai keberhasilan mengatasi persoalan tersebut. Bila Anda takut gagal mengakibatkan takut mencoba melangkah mengatasi permasalahan. Sehingga kehilangan kesempatan untuk keluar dari problema kehidupan. Tetapi jika berani mencoba, setidaknya Anda masih punya masih punya kesempatan dan harapan lolos dari masalah.

 

Ketika solusi yang Anda terapkan tidak berhasil, jangan menyerah. Kegagalan itu anggap saja sebagai kesempatan mengevaluasi diri, mencari tahu kelemahan solusi kemudian menyempurnakan. Ingat bahwa perjuangan bukan bisa atau tidak kita konsisten memfokuskan pikiran pada solusi sampai persoalan tersebut terurai dan teratasi.

 

Mahasiswa Fakultas Hukum

(Unika Widya Karya Malang)

Dikutip : Majalah Psikologi empati yang menyembuhkan Volume III No. 4 Oktober 2008



Dikirim pada 13 November 2014 di Saling mengingatkan
comments powered by Disqus


connect with ABATASA